Manusia selalu hidup berdampingan dengan sesamanya dalam melakukan aktifitas sehari-hari, baik di rumah dengan keluarga maupun tetangga, di tempat kerja dengan koleganya atau mitra kerja dari tempat lain, demikian pula dengan teman sepermainan serta sahabat-shabat terdekat. Warna-warni silih berganti bermunculan dalam berbagai relasi tersebut secara alami, dari yang positif sampai yang negatif. Salah satu hal yang kerap kali terjadi dalam relasi dimaksud adalah sendagurau.


Sendagurau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia online berarti main-main (canda) dengan kata-kata seperti olok-olok; kelakar; seloroh. Dalam Mu‘jam Maqayis al-Lughah kata sendagurau merupakan arti dari kata المزاحة (al-muzahah) yang sepadan dengan kata الدعابة yang dapat bermakna bermanja-manja jika digunakan dalam konteks relasi suami-isteri seperti saran Nabi suci Muhammad saw kepada Jabir bin Abdillah al-Anshari (w. 78 H) untuk memilih pasangannya. Dengan demikian sendagurau atau candaan merupakan sesuatu yang tidak bisa lepas dari bagian kehidupan manusia, ibaratnya  hidup tanpa candaan mungkin dapat diibaratkan dengan masakan tanpa garam. Bahkan Nabi suci saw diilustrasikan sebagai pribadi yang suka bercanda (Ibn al-Asir w. 606 H). Ulama seperti al-Sya’bi (w. 103/4/5 H), Ibn Sirin (w. 110 H) ahli ta’wil mimpi dan Ibrahim bin Adham (w. 162 H) tokoh sufi termasuk deretan orang-orang yang suka bersendagurau. Imam Syafi‘i (w. 204 H) membolehkan menerima kesaksian orang yang suka bersendagurau dalam konteks positif.


Konteks sendagurau tersebut berpijak pada keadaan santai, ramah dan menyenangkan. Konteks tersebut idealnya menjadikan antara sesama manusia menjadi lebih bersemangat, tenang bahkan terhibur setelah sendagurau sehingga menjadikan seseroang yang dicandai bisa lebih rileks dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Namun di masa kini, pijakan dasar tersebut seringkali kali hilang saat bersendagurau antara sesama; baik pasangan hidup, kolega teman dan sahabat. Padahal Nabi suci saw saat bersendagurau tidak pernah dengan sesuatu yang mengandung dusta. Nabi suci saw pernah bersabda pada seorang budak bernama Anjasah,

يا ‌أنجشة لا تكسر القوارير(رواه البخاري)

hai Anjasah jangan engkau pecahkan botol-botol itu”

Ungkapan botol (plural) bukan maksud sebenanrnya, Anjasah memiliki suara indah dan itu dapat melemahkan perempuan. Ungkapan botol sebagai sendagurau Nabi suci saw mengandung pelajaran.


Dalam Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudahala karya Ibn Hibban al-Busti (w. 354 H), beliau berkata sendagurau ada dua kategori; (1) sendagurau yang terpuji; (2) sendagurau yang tercela. Sendagurau yang terpuji tidak ternoda dengan apa yang Allah swt benci, tidak mengandung dosa, serta memutus silaturahmi. Sementara sendagurau yang tercela adalah yang menimbulkan permusuhan, menghilangkan martabat, merusak pertemanan, orang rendah berani menyerang orang yang bersendagurau dan orang mulia membenci mereka yang bersendagurau karena mengandung hal-hal tersebut.


Masa kini terlihat di media sosial, dan di pergaulan sehari-hari sendagurau yang terjadi telah mengarah pada hal-hal negartif lantaran panduan dan pijakan utamanya telah dicabut entah sengaja atau lupa dari akar dan makna seharusnya dari sendagurau ‘beretika’ tersebut. Hal-hal yang harusnya dihindari terkait SARA; suku, agama, ras dan antar golongan tidak patut dijadikan sebagai gurauan. Memang diakui terkadang sendagurau juga untuk melatih logika dan ketangkasan berfikir misalnya antara al-Sya’bi dengan salah satu tukang jahit saat mereka bertemu, namun sendagurau seperti ini tidak menyingung pribadi masing-masing apalagi mengandung unsur SARA. Selain hal-hal tersebut, yang patut dihindari saat bersendagurau adalah harus melihat dengan siapa kita berhadapan, sebab tidak semua orang bisa bersendagurau.

wa Allāhu a‘lam bi al-awāb ...