Ternate — Tragedi ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang terjadi saat para santri tengah menunaikan salat Ashar, menyisakan duka yang mendalam bagi dunia pendidikan Islam. Musibah ini tidak hanya merenggut korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga meninggalkan luka emosional bagi keluarga besar pesantren serta masyarakat luas yang selama ini mengenal Al Khoziny sebagai salah satu pesantren bersejarah di tanah Jawa.
Komisaris Wilayah (Komwil) Alkhairaat Maluku Utara, Abdurrahman Assagaf, turut menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas musibah tersebut. “Kami di Alkhairaat Maluku Utara sangat berduka atas peristiwa yang menimpa Pondok Pesantren Al Khoziny. Doa kami panjatkan agar para korban diterima di sisi Allah SWT, keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan seluruh civitas pesantren diberikan kekuatan untuk bangkit kembali,” ujarnya. Ia menambahkan, tragedi ini menjadi pelajaran berharga agar ke depan aspek keselamatan bangunan pesantren lebih diperhatikan sehingga tidak lagi menimbulkan korban di kalangan para santri.
Pondok Pesantren Al Khoziny sendiri dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Jawa Timur. Pesantren ini didirikan oleh KH Raden Khozin Khoiruddin pada awal abad ke-20, dan dalam catatan sejarah keberadaannya bahkan telah melampaui satu abad. Dari awalnya hanya mengajarkan kitab kuning dengan metode tradisional seperti sorogan dan bandongan, Al Khoziny kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan yang lengkap dengan jenjang madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, hingga perguruan tinggi yang kini dikenal sebagai Institut Agama Islam (IAI) Al Khoziny.
Perjalanan panjang pesantren ini juga tidak bisa dilepaskan dari jejaring ulama besar di Jawa, termasuk hubungannya dengan Pondok Siwalanpanji. Tradisi keilmuan yang kuat menjadikan Al Khoziny bukan hanya pusat pendidikan formal, tetapi juga benteng spiritual yang menekankan nilai ibadah, salat berjemaah, dan amalan tarekat belajar-mengajar sebagai bagian dari jalan menuju Allah SWT.
Karena itulah, tragedi robohnya musalah pesantren ini menjadi kehilangan yang amat dirasakan. Puluhan santri menjadi korban, sebagian berhasil diselamatkan, namun ada pula yang wafat. Proses evakuasi berlangsung dramatis dengan melibatkan aparat, tim SAR, dan masyarakat setempat.
Di tengah suasana duka ini, pernyataan Abdurrahman Assagaf menjadi pengingat bahwa tragedi di Al Khoziny bukan hanya kesedihan bagi keluarga pesantren, tetapi juga kehilangan bagi dunia Islam secara umum. “Alkhairaat menyerukan doa dan solidaritas agar pesantren ini kembali bangkit, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendirinya tetap hidup di hati para santri dan masyarakat,” tutupnya dengan suara penuh keharuan. (rm/foto utama BBC)