Laut Ternate pagi itu berkilau tenang di bawah mentari timur. Dari kejauhan, kapal pesiar megah “Seabourn Guest” perlahan merapat di pelabuhan kota. Di atas kapal, puluhan wisatawan mancanegara berdiri di geladak, takjub menatap Gunung Gamalama yang menjulang anggun, seolah menyambut mereka dengan pelukan keindahan. Mereka tidak sekadar singgah, melainkan datang untuk menapaki jejak sejarah di pulau yang dulu mengharumkan dunia: Ternate, sang Pulau Rempah.
Setibanya di daratan, para wisatawan disambut dengan hangat oleh masyarakat
Kota Ternate dan Tim Pemandu Wisata yang di Ketuai oleh Saudara Azis Momanda
selaku Ketua HPI-Malut sekaligus koordinator kegiatan bersama rekan-rekanya, salah
satunya adalah seseorang yang akrab disapa Agus yang mana juga merupakan salah
satu pengurus HPI-Malut. Mereka adalah bagian dari Himpunan Pramuwisata
Indonesia (HPI) Maluku Utara, yang telah lama menjadi garda depan dalam
memperkenalkan pesona Ternate kepada wisatawan mancanegara maupun domestik.
Dengan senyum ramah dan sapaan bersahabat, Agus dan rekan tour guide lainnya
memimpin rombongan menuju destinasi pertama yaitu Keraton Kesultanan Ternate,
istana bersejarah yang menjadi simbol kejayaan dan kebanggaan masyarakat Maluku
Utara.
Di halaman keraton, suasana sudah begitu hidup. Para penari berpakaian
adat telah bersiap dengan iringan tarian Soya-Soya, tarian penyambutan penuh
semangat yang dahulu dipersembahkan bagi para pahlawan yang pulang dengan
kemenangan. Suara tifa berpadu dengan lantunan musik tradisional menciptakan
suasana hangat yang mempesona, sementara para wisatawan berdecak kagum
menyaksikan keindahan budaya yang begitu otentik.
Usai penyambutan, para wisatawan diajak memasuki pelataran keraton untuk
menyaksikan upacara adat “Joko Kaha”, sebuah tradisi sakral yang melambangkan
penghormatan dan persahabatan kepada tamu kehormatan. Dalam momen yang penuh
makna ini, koordinator kegiatan meminta dua wisatawan, Andy dan Vertba,
pasangan asal Amerika Serikat, untuk menjadi relawan mengikuti prosesi adat.
Dengan mengenakan kain adat Ternate, mereka dengan penuh semangat dan rasa
hormat mengikuti jalannya upacara, didampingi oleh para perangkat kesultanan
dan disambut tepuk tangan hangat masyarakat.
Prosesi upacara adat (Joko Kaha) untuk penyambutan tamu asing dari kapal Seabourn Guest. Foto: Agus/dok. pribadi
Setelah prosesi adat selesai, rombongan diarahkan menuju Pendopo
Kesultanan Ternate. Di sana, para wisatawan disambut langsung oleh perwakilan
Kesultanan Ternate, yang dengan penuh keramahan menyampaikan ucapan terima
kasih dan selamat datang. “Selamat datang di Keraton Kesultanan Ternate. Kami
merasa terhormat menerima saudara-saudara dari jauh. Semoga keindahan dan
keramahan Ternate menjadi kenangan indah di hati Anda,” ujar perwakilan
Kesultanan dengan nada penuh persaudaraan.
Tak berhenti di situ, suasana pendopo semakin semarak dengan penampilan
tarian tradisional Lala, tarian khas Ternate yang berpasangan dan diiringi
musik tradisional. Suara gong, tifa, dan seruling berpadu dalam harmoni yang
memikat, membuat suasana menjadi hangat dan menawan. Para wisatawan tampak
terpukau dan berdecak kagum, bahkan beberapa di antaranya ikut menari bersama
para penampil lokal.
Sebagai penutup acara di pendopo, Kesultanan menyuguhkan kopi rempah
khas Ternate, racikan istimewa dari biji kopi lokal yang dipadukan dengan
cengkih, pala, dan kayu manis. Aroma harum kopi menyelimuti ruangan,
menghadirkan sensasi yang menenangkan sekaligus mengingatkan pada sejarah
panjang perdagangan rempah yang pernah menghubungkan Ternate dengan dunia. Para
wisatawan menikmati jamuan itu dengan senyum puas, merasakan kehangatan yang
bukan hanya dari minuman, tetapi juga dari sambutan yang tulus.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Benteng Toloko, peninggalan
Portugis abad ke-16 yang menjadi saksi sejarah awal pertemuan Ternate dengan
bangsa Eropa, serta ke Batu Angus, bentang alam hasil letusan Gunung Gamalama
yang kini menjadi panorama geologis menakjubkan.
Rangkaian perjalanan kelompok wisata yang lainnya juga berkunjung ke perkebunan
rempah di lereng Gamalama, cengkih, pala, dan kayu manis, tempat para wisatawan
belajar tentang warisan “emas hijau” yang menjadikan Ternate begitu terkenal di
mata dunia. Para petani berbagi kisah tentang bagaimana rempah menjadi denyut
kehidupan masyarakat selama berabad-abad dan simulasi panen buah palanya.
Menjelang
sore, saat kapal “Seabourn Guest” perlahan meninggalkan dermaga, para wisatawan
berdiri di tepi kapal, melambaikan tangan ke arah kota yang baru saja mereka
kenal, dan mungkin tak akan pernah mereka lupakan. Di tepi pantai, masyarakat
dan para pemandu wisata membalas lambaian itu dengan senyum penuh hangat. Di
udara, semerbak rempah kembali menguar, mengiringi perpisahan yang begitu
indah.
“Di Pulau Rempah ini, sejarah tidak hanya dikenang, ia hidup, menari, dan menyapa setiap jiwa yang datang dengan hati terbuka” Ternate bukan sekadar tempat yang dikunjungi, tetapi kisah yang dirasakan.
Pose berlatar kapal Seabourn Guest, setelah kegiatan tour bersama wisatawan. Foto: Agus/dok. pribadi