Di era digital yang
serba cepat, manusia semakin mudah terhubung satu sama lain. Kita bisa menjalin
hubungan lintas jarak hanya dengan satu klik, membangun jejaring profesional
melalui platform daring, bahkan membentuk citra diri lewat unggahan di media sosial.
Namun, di balik keterhubungan itu, ada paradoks yang mengkhawatirkan: hubungan
antarmanusia kian dangkal, dan kecenderungan untuk memanfaatkan orang lain demi
kepentingan pribadi justru semakin kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa di
tengah kemajuan teknologi dan peradaban, manusia belum tentu semakin manusiawi.
Perilaku eksploitatif
bukan hal baru dalam sejarah manusia. Sejak peradaban awal, manusia cenderung
melihat sesamanya sebagai sarana untuk bertahan hidup, berkuasa, atau
memperoleh keuntungan. Namun, bentuk eksploitasi kini menjadi semakin halus,
tersamar di balik wajah modernitas dan kolaborasi digital. Di era media sosial,
manusia dapat “dimanfaatkan” bukan hanya melalui tenaga atau sumber daya,
tetapi juga melalui perhatian dan validasi sosial.
Nilai manusia sering
kali diukur dari engagement, influence metrics, atau seberapa bermanfaat
kehadirannya bagi kepentingan orang lain. Eksploitasi emosional dapat
bersembunyi di balik konten yang tampak kolaboratif, sementara pemanfaatan
sosial dapat terjadi melalui hubungan yang bersifat transaksional, semuanya
tampak wajar di bawah label “networking” atau “strategi personal
branding”.
Dari sudut pandang
psikologi sosial, perilaku memanfaatkan orang lain dapat dijelaskan melalui Social
Exchange Theory yang dikemukakan oleh George C. Homans pada tahun 1958.
Teori ini berasumsi bahwa setiap interaksi manusia pada dasarnya bersifat
transaksional: seseorang akan berusaha memperoleh keuntungan maksimal dengan
pengorbanan minimal.
Dalam konteks modern,
banyak hubungan dibangun bukan karena empati, tetapi karena kalkulasi nilai
sosial yang bisa diperoleh. Fenomena ini juga berkaitan dengan Machiavellianism
yang mana terdapat sebuah dimensi kepribadian manipulatif yang menjadi bagian
dari Dark Triad Personality bersama narsisisme dan psikopati. Individu
dengan kecenderungan ini memiliki kemampuan sosial tinggi, namun digunakan
untuk mengendalikan orang lain demi tujuan pribadi.
Dalam dunia kerja
maupun digital, sifat ini termanifestasi dalam bentuk kolaborasi yang
manipulatif, gaslighting, atau eksploitasi emosional yang terselubung.
Albert Bandura kemudian menambahkan konsep moral disengagement, yaitu mekanisme
psikologis yang membuat seseorang mampu melakukan tindakan tidak etis tanpa
merasa bersalah.
Dalam sistem sosial
yang menormalkan persaingan ekstrem dan keberhasilan individu, eksploitasi
sering kali dianggap bagian dari strategi, bukan pelanggaran moral.
Dari perspektif
etika, tindakan memanfaatkan orang lain menentang prinsip moral fundamental:
manusia tidak boleh dijadikan alat semata. Immanuel Kant dalam Groundwork of
the Metaphysics of Morals menegaskan bahwa manusia harus selalu
diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri.
Namun, dalam
masyarakat kapitalistik yang menilai individu berdasarkan produktivitas dan
fungsi ekonomi, prinsip ini kian kabur. Manusia dievaluasi bukan karena nilai
moralnya, melainkan karena seberapa “berguna” ia bagi sistem. Kondisi ini
menimbulkan krisis empati, seperti dijelaskan Daniel Goleman dalam konsep social
intelligence. Ketika interaksi sosial didorong oleh kepentingan, empati
kehilangan tempatnya. Akibatnya, hubungan manusia menjadi mekanis dan
utilitarian, sementara nilai-nilai moral tergantikan oleh efisiensi dan
pencitraan.
Kemajuan kecerdasan
buatan (AI) memperluas dimensi eksploitasi ini. Data pribadi manusia kini
menjadi bahan bakar utama bagi sistem algoritmik. Perusahaan teknologi
menggunakan perilaku, preferensi, dan emosi pengguna untuk mengoptimalkan
keuntungan ekonomi. Ironisnya, manusia kini bukan hanya pelaku eksploitasi,
tetapi juga objeknya yang mana dimanfaatkan oleh sistem yang diciptakannya
sendiri.
Fenomena ini
menimbulkan pertanyaan etis baru: apakah manusia sedang menciptakan sistem yang
memperdalam kecenderungan eksploitatif terhadap dirinya sendiri? Zygmunt Bauman
menyebut masyarakat modern sebagai “masyarakat cair” (liquid modernity), di
mana nilai dan hubungan manusia berubah dengan cepat, kehilangan bentuk, dan
semakin sulit dipegang. Dalam dunia cair ini, manusia mudah tergelincir menjadi
sekadar fungsi dalam sistem yang lebih besar.
Untuk mengatasi
kecenderungan ini, kita perlu melakukan rekonstruksi etika dalam relasi
manusia. Etika digital, literasi emosional, dan pendidikan moral berbasis
empati harus menjadi fondasi dalam menghadapi masyarakat utilitarian yang
ekstrem. Dunia pendidikan dan ruang publik digital perlu menumbuhkan kesadaran
bahwa setiap hubungan manusia adalah ruang tanggung jawab, bukan transaksi.
Psikologi modern kini
menekankan pentingnya empathic intelligence dimana kemampuan memahami dan
merasakan pengalaman orang lain yang dijadikan sebagai dasar bagi hubungan
sosial yang sehat. Dalam konteks ini, menjadi manusia di abad ke-21 bukan hanya
soal menguasai teknologi, melainkan mempertahankan kemanusiaan di tengah sistem
yang terus berusaha mereduksi manusia menjadi alat.
Fenomena manusia yang
memanfaatkan sesamanya bukan sekadar masalah moral individu, tetapi refleksi
dari sistem sosial dan ekonomi yang membentuk perilaku itu. Dunia modern
menuntut efisiensi dan keberhasilan, namun sering kali mengorbankan empati dan
nilai kemanusiaan. Tantangan kita hari ini adalah menolak menjadi alat dan
sekaligus berhenti memperlakukan orang lain sebagai alat. Kemajuan ilmu
pengetahuan semestinya membuat kita lebih bijak, bukan lebih dingin. Sebab, di
tengah kecerdasan buatan yang semakin canggih, yang paling kita butuhkan
bukanlah mesin yang lebih pintar melainkan manusia yang lebih berempati.
“Ketika manusia mulai melihat sesamanya sebagai alat, ia berhenti menjadi manusia dan berubah menjadi bagian dari mesin.”