Era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Setiap detik, jutaan informasi berseliweran, menggempur kesadaran kita melalui layar kecil di genggaman tangan. Dunia menjadi tanpa batas, tetapi batas antara benar dan salah, baik dan buruk, mulai memudar. Anak-anak tumbuh di tengah derasnya arus teknologi yang memudahkan segalanya, namun di sisi lain menantang kedalaman hati dan kebijaksanaan jiwa. Di sinilah pertanyaan penting muncul: bagaimana menumbuhkan akhlak di tengah kemajuan yang serba cepat ini?

Akhlak adalah fondasi kemanusiaan. Tanpa akhlak, kecerdasan hanya melahirkan kelicikan, dan teknologi hanya mempercepat kehancuran. Kemajuan digital seharusnya menjadi sarana memperluas kebaikan, bukan memperkuat ego dan keserakahan. Sayangnya, ruang digital kita kini sering dipenuhi ujaran kebencian, fitnah, serta budaya pamer yang menjauhkan manusia dari keikhlasan. Orang berdebat bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membenarkan diri. Di balik wajah yang tersenyum di foto, tersimpan kegelisahan dan kesepian yang tak tersentuh. Dunia maya menciptakan koneksi tanpa kedekatan, komunikasi tanpa empati.

Pendidikan akhlak menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi realitas ini. Keluarga sebagai madrasah pertama memiliki peran utama dalam membentuk karakter anak. Orang tua tidak hanya bertugas memberi perangkat, tetapi juga arah. Menemani anak menggunakan teknologi dengan bijak adalah bentuk cinta yang nyata. Anak-anak perlu melihat teladan, bukan sekadar nasihat. Mereka belajar bagaimana menahan diri ketika disakiti di media sosial, bagaimana bersikap jujur meski godaan rekayasa digital begitu mudah dilakukan. Akhlak bukan diajarkan lewat kata-kata, melainkan dipantulkan melalui tindakan.

Sekolah juga memiliki tanggung jawab moral untuk menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kebijaksanaan hati. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya dengan etika. Literasi digital harus sejalan dengan literasi moral. Guru menjadi figur penting yang menanamkan nilai tanggung jawab, kesantunan, dan empati di dunia maya. Setiap pelajaran, apa pun bentuknya, sejatinya adalah wahana untuk menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Ilmu yang tidak dibingkai dengan akhlak hanya akan menjadi pengetahuan yang hampa.

Di tingkat masyarakat, lingkungan sosial kita harus menjadi ruang keteladanan moral. Budaya saling menghargai dan berbagi kebaikan perlu dihidupkan kembali. Media sosial seharusnya tidak menjadi arena saling menjatuhkan, tetapi wadah membangun solidaritas dan menebar inspirasi. Tokoh publik, pendidik, dan influencer seharusnya menjadi panutan, bukan peng-giring opini yang memperkeruh keadaan. Dalam konteks ini, tanggung jawab moral di dunia digital bukan hanya urusan individu, melainkan tanggung jawab kolektif sebagai bangsa yang beradab.
Negara pun memiliki peran strategis dalam menumbuhkan akhlak di era digital. Kebijakan pendidikan dan teknologi semestinya tidak hanya berorientasi pada kompetensi, tetapi juga pada karakter. Kurikulum nasional perlu menempatkan pendidikan akhlak sebagai inti dari seluruh proses belajar, bukan sekadar pelengkap. Program literasi digital harus dibingkai dengan nilai-nilai moral dan spiritual bangsa agar masyarakat tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara etis. Pemerintah, melalui teladan dan kebijakan yang transparan, seharusnya menjadi model akhlak publik yang baik di ruang digital.

Namun pada akhirnya, tugas menumbuhkan akhlak tidak bisa diserahkan kepada lembaga mana pun. Ia adalah tanggung jawab setiap jiwa. Dunia digital hanyalah cermin yang memperbesar siapa kita sesungguhnya. Jika ruang maya penuh dengan kebencian, mungkin karena ruang hati manusia sudah terlalu sempit untuk cinta. Maka yang perlu kita bangun bukan hanya kecakapan digital, tetapi kehalusan nurani. Karena pada akhirnya, kemajuan sejati bukan diukur dari seberapa cepat kita beradaptasi dengan teknologi, melainkan seberapa dalam kita mampu menjaga kemanusiaan di tengah arus perubahan yang tiada henti.

Teknologi adalah cahaya yang menerangi, tetapi akhlak adalah arah yang menuntun. Tanpa akhlak, cahaya itu bisa menyilaukan, bukan menerangi. Maka tugas terbesar pendidikan hari ini bukan hanya mencetak generasi cerdas, tetapi generasi beradab yang mampu menundukkan teknologi dengan akhlaknya, bukan ditundukkan oleh teknologi karena kehilangan jati dirinya.