Ada satu momen yang hampir dialami setiap orang tua: ketika nasihat yang sama harus diulang berkali-kali, tapi hasilnya tetap serupa. “Pulang sebelum jam enam, ya,” begitu pesan yang diucapkan dengan harapan, namun jarum jam kembali melewati angka enam, dan anak baru melangkah pulang dengan wajah penuh tawa. Dalam situasi seperti ini, mudah sekali muncul rasa jengkel, bahkan kecewa. Namun sesungguhnya, pengulangan bukanlah tanda kegagalan. Dalam dunia pendidikan anak, pengulangan adalah bagian dari pertumbuhan.


Rumah adalah “sekolah pertama” bagi anak. Di sanalah karakter, nilai moral, dan kebiasaan baik mulai dibentuk. Ketika orang tua terus mengingatkan anak tentang tanggung jawab meski harus diulang berkali-kali, sebenarnya mereka sedang menanam benih kedisiplinan dan kejujuran. Nilai-nilai karakter seperti disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat tidak tumbuh instan. Ia memerlukan contoh nyata, pembiasaan, dan kesabaran.


Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat daripada dari apa yang ia dengar. Maka, saat orang tua menepati janji, menahan amarah, atau berkomunikasi dengan sabar, anak sesungguhnya sedang “menyerap” nilai-nilai itu secara tidak langsung. Keteladanan menjadi sarana pendidikan karakter yang paling kuat, karena anak belajar dari pengalaman yang ia rasakan setiap hari di rumah.


Dalam psikologi pendidikan, pengulangan adalah proses alami dari pembelajaran yang disebut reinforcement (penguatan). Menurut teori belajar behavioristik, anak belajar melalui penguatan positif dan negatif. Artinya, setiap kali anak menepati aturan dan mendapat apresiasi (meski kecil), otaknya merekam pengalaman itu sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sebaliknya, jika pelanggaran selalu disambut dengan kemarahan, anak bisa jadi kehilangan motivasi untuk berubah, karena yang ia tangkap hanyalah ketakutan, bukan pemahaman.


Selain itu, menurut teori perkembangan kognitif, anak usia sekolah dasar hingga remaja awal masih dalam tahap belajar memahami konsekuensi dari tindakannya. Mereka belum sepenuhnya mampu mengontrol impuls atau memperhitungkan waktu dengan baik. Maka, ketika anak lupa waktu bermain, hal itu bukan selalu bentuk pembangkangan, melainkan proses belajar mengelola diri.


Kesabaran dalam mendidik bukan berarti membiarkan, tetapi memberi waktu bagi proses itu tumbuh. Pendidikan karakter dan psikologi anak berjalan seiring: karakter dibentuk oleh pengalaman yang berulang, dan setiap pengalaman menjadi data bagi perkembangan mentalnya. Ketika orang tua memilih untuk menjelaskan daripada memarahi, mengajak berdialog daripada menghukum, mereka sedang membangun fondasi emosional yang kuat.


Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sabar dan konsisten akan belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya. Ia akan memahami bahwa setiap kekeliruan bisa diperbaiki, dan bahwa kasih sayang tidak bergantung pada kesempurnaan. Dari sinilah muncul rasa percaya diri, empati, dan kesadaran moral yang menjadi inti pendidikan karakter sejati.


Oleh karena itu ketika nasihat harus diulang untuk kesekian kali, ingatlah bahwa proses mendidik bukan tentang cepatnya perubahan, melainkan ketekunan dalam menanamkan nilai. Berulang bukan berarti gagal, berulang justru berarti kita terus berjuang membentuk manusia kecil yang suatu hari nanti akan memahami makna tanggung jawab, bukan karena takut, tetapi karena sadar.