Peneliti di bidang kesehatn dan performa dari University of South  Australia, oleh Maddison Mellow, Ph.D. menemukan bahwa manusia memiliki tiga status hidup, “ tidur, diam, dan bergerak”. Dan pilihannya hanya ada tiga, tanpa adanya multitasking.

Dalam 24 jam kita sebagai manusia hanya bisa memilih dan melakukan salah satu dari ketiga kondisi itu dan hanya satu kondisi yang membuat otak kita menjadi lebih produktif, yaitu dengan “bergerak”.

Penelitian ini diujicobakan pada 585 orang dewasa sehat dengan rentang usia 65-80 tahun, diantara mereka yang aktif dan rutin melakukan aktivitas fisik baik sedang hingga berat (jalan cepat, sepedaan, yoga, angkat beban) memiliki daya ingat yang lebih kuat. Dan menariknya, aktivitas tersebut berlaku untuk semua usia, tua maupun muda.

Produktivitas dan aktivitas sibuk adalah dua hal yang berbeda, produktif sejatinya saat kita focus melakukan sesuatu dan menghasilkan sesuatu yang berfaedah. Terkadang kita terlihat sibuk, duduk berjam-jam di depan leptop, nonton drakor, buka medsos. Kita terlihat dan terkesan seperti orang yang produktif, namun kita sadar dan faham betul bahwa produktif bukan hanya sekedar sibuk. Jika sekedar sibuk cicak di dinding jauh lebih sibuk mondar mandir kosong tanpa arti.

Tapi kita adalah manusia yang dianugrahi akal sehat, potensi atau fitrah ilahiyah, yang secara naluriah  selalu berkeinginan untuk terus berdaya dan punya kualitas hidup bermakna, namun disrupsi hiburan gawai mengambil alih fitrah kita sebagai manusia, beraktivitas tapi kosong, tidak menghasilkan apa-apa yang bermakna, apalagi jika sudah memasuki waktu weekend bangun pagi langsung mengambil gawai menggeser layar secara impulsif sambil rebahan, tanpa sadar sudah berjam-jam waktu yang terbuang.

Meskipun hari libur adalah hari bebas tapi tetap saja ada rasa bersalah, penyesalan, gelisah, hampa. Gejolak perasaan itu pelan-pelan menghampiri yang membuat kita bingung, “kenapa aku membuang-buang waktu, kenapa tidak kugunakan untuk membaca, menulis atau sekedar merapikan lemari pakaian”.

Kebanyakan dari kita bersikap kompulsif atau sulit untuk berhenti dari aktivitas malas, bahkan kita mengabaikan alarm berupa gejolak perasaan tersebut. kita tau ini adalah aktivitas yang tidak produktif tapi tetap saja kita mempertahankannya dengan dalih “ini hari libur, waktu masih panjang”

Ternyata jawaban dari semua kegundahan yang kita alami bukan ada pada waktu ataupun niat, tetapi cara kita mengatur hidup, dan hal ini relate dengan riset di atas. Maddison menemukan jika aktivitas fisik meskipun itu ringan sekedar jalan kaki, merapikan tempat tidur setelah bangun, atau mencuci piring atau apapun aktivitas ringan selama 20 menit mampu meningkatkan kinerja otak seperti kemampuan  berpikir maupun kecepatan berpikir.

Sederhananya untuk kita bisa produktif dan mengontrol rasa malas tidak perlu rencana, niat atau kalimat motivasi melainkan bergerak. Bergerak pilihan yang sangat mudah untuk dilakukan dari tiga kondisi tadi. Menurut Maddison bergerak ibarat bahan bakar energi untuk merencanakan aktivitas yang produktif di jam-jam berikutnya.

Sebuah penelitian yang memberikan harapan baru bagi para kaum manula, dimana mereka sering dikaitkan dengan penurunan daya ingat dan kemampuan kognitif. Peneltian ini melibatkan kelompok lansia kisaran usia 71 sampai 85 tahun. Mereka hanya diminta melakukan aktivitas berjalan kaki, 4 kali dalam 1 minggu selama 12 minggu, peserta berjalan di atas treadmill. Aktivitas ini sederhana namun hasilnya sungguh mencengangkan.

Kemampuan mereka dalam mengingat cerita meningkat secara signifikan dan yang lebih menarik lagi hasil uji pemindaian otak dengan menggunakan teknologi FMRI menunjukkan adanya perubahan besar. Aktivitas otak para lansia menjadi lebih sinkron, khususnya di tiga jaringan penting yang bertanggung jawab terhadap focus, memori dan kemampuan mengambil keputusan. Temuan ini bukan hanya sekedar tentang daya ingat yang membaik melainkan otak yang secara fungsi lebih harmonis. Penelitian kedua dalm tulisan ini membawa pada Kesimpulan bahwa aktivitas yang begitu sederhana tetapi memberikan manfaat secara langsung bagi pikiran.

Penelitian berikutnya berfokus kepada masyarakat adat yang hidup di pedalaman hutan Amazon Bolivia, yaitu suku Tsimane dan Moseten. Dibandingkan dengan populasi lansia di Amerika Serikat dan Eropa, otak suku Tsimane dan Moseten mengalami penyusutan lebih lambat seiring bertambahnya usia. Mengapa bisa demikian? Jawabannya “gaya hidup” kedua suku ini menjalani kehidupan yang sangat aktif secara fisik, mereka berburu, bertani, berjalan kaki setiap hari. Kegiatan mereka bukan kesengajaan demi kesehatan tetapi upaya untuk bertahan hidup. Tanpa disadari rutinitas itu menjadi factor pelindung alami bagi otak mereka dari penuaan yang mempercepat degenerasi.

Penyusutan otak seringkali menjadi pemicu berbagai gangguan neurologis termasuk demensia, namun kedua penelitian ini memberikan gambaran lain, bahwa kita memiliki cara alami untuk memperlambat proses tersebut. kuncinya adalah bergerak, hanya dengan bergerak bukan lari maraton atau latihan intensif di pusat kebugaran melainkan aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara rutin dan konsisten.

Saat ini kita hidup di zaman dimana kecepatan seringkali mengorbankan gerak, duduk terlalu lama, bepergian dengan menggunakan kendaraan atau terjebak dalam layar, semua itu telah menjadi habit bahkan rutinitas yang mengalihkan kita dari naluri tubuh kita yang sejatihnya diciptakan untuk bergerak. Dua studi di atas membuka mata kita, dengan hanya berjalan kaki, kita bisa mengaktifkan kembali sel-sel saraf otak yang mulai melemah dan menua.

Tubuh yang brgerak membantu otak tetap aktif, meskipun langkah terasa ringan, namun di balik itu tersembunyi manfaat yang begitu  besar untuk investasi kesehatan di masa depan.

Menjaga ingatan tidak perlu mengingat lebih banyak tapi cukup melangkah lebih jauh. Temuan penelitian tersebut relate dengan teori evolusi, yang  secara biologis manusia didesain  untuk terus bergerak. sejak zaman nenek moyang kita baik home erectus maupun homo sapiens aktivitas fisik bukanlah melainkan kebutuhan untuk bertahan hidup, mereka berjalan berkilo-kilometer untuk mencari makanan, berburu hewan liar, mengumpulkan tanaman dan berpindah tempat.

Aktivitas fisik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses adaptasi tubuh dan otak manusia terhadap lingkungan. Dalam kerangka ini otak kita berkembang karena tubuh yang aktif. Berjalan, menavigasi medan yang kompleks, membuat keputusan cepat saat berburu atau menghindari bahaya, semua kompleksitas ini mengaktifkan berbagai jaringan otak. Maka gaya hidup aktif adalah bagian warisan evolusioner. Sederhananya, aktivitas fisik adalah “nutrisi evolusioner bagi otak”.

Era modern membuat aktivitas fisik berkurang drastis. kendaraan, kursi empuk, layar digital, semua itu membuat otak seperti kehilangan bahan bakar alaminya. Dalam konteks ini terjadinya penyusutan otak dan penurunan kemampuan kognitif bukanlah hal yang aneh melainkan akumulasi konsekwensi dari penyimpangan pola hidup nenek moyang kita, sehingga penyusutan otak terjadi lebih cepat pada populasi modern, temuan pada suku Tsimane dan Moseten menjadi semacam jendela waktu yang bisa dipahami dari hidup yang tak lagi selaras dengan desain bilogis kita, menunjukan bagaimana otak manusia bisa tetap sehat dalam usia lanjut jika tetap menjalani gaya hidup seperti yang diwariskan oleh evolusi dan terlibat dengan lingkungan secara langsung. Modernisasi membuat hidup lebih mudah, tapi tidak selalu lebih sehat, terutama bagi otak, ini bukan tentang kembali ke hutan namun cukup kembali melangkah.