Tareba selalu menjadi tempat favorit kami melepas penat. Setiap Ahad sore, komunitas kecil kami, para pendaki yang bersahabat dengan sunyi dan ketinggian biasanya berkumpul di sana. Duduk melingkar di bawah gazebo sambil ditemani secangkir kopi dan pisang goreng plus sambal kacang, suasana riuh dikelilingi tawa riang yang saling bersahutan dengan semilir angin.

Sore itu, angin laut bertiup pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan kami yang ringan. Namun tiba-tiba, suasana berubah. Junaidi, salah satu teman kami yang dikenal tenang dan dewasa, mendadak mematung. Wajahnya mengeras, matanya menatap kosong ke kejauhan sambil menghela nafas panjang lalu dengan suara yang nyaris pelan, ia berkata:

"Alya selingkuh."

Seperti disambar petir di sore yang cerah, kami semua terdiam. Tak ada yang menduga. Hubungan mereka selama ini tampak baik-baik saja. Junaidi bukan laki-laki sembarangan. Ia pengacara sekaligus dosen di salah satu kampus ternama di Ternate, figur matang, mapan, santun dan soleh. Entah apa yang membuat Alya tega menghianatinya.

Salah satu dari kami buru-buru menanggapi, "Putuskan saja. Masih banyak perempuan lain yang lebih layak dan pantas." Ucapan itu segera disambut dukungan yang lain. Saran-saran instan, penuh semangat namun hambar dan hampa oleh rasa. Aku diam sejenak, mencoba memposisikan diriku di tempat Junaidi berdiri di tengah badai yang tak terlihat, tapi terasa sesak menusuk ke dada. Lalu aku bertanya pelan,

"Kalau aku yang diselingkuhi, solusi apa yang akan kamu berikan untukku sebagai sahabat?"

Junaidi terdiam. Matanya tak lagi menatap kami, seakan ia tengah melihat sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu mungkin kenangan, mungkin luka yang baru saja menganga.

Saat Masalah Bukan Milik Kita, Pikiran Jadi Lebih Jernih

Situasi Junaidi ini sebenarnya menunjukkan fenomena menarik dalam psikologi. Mungkin kita semua merasa lebih gampang memberi nasihat ke teman yang sedang galau atau patah hati, namun ketika kita dihadapkan pada masalah pribadi, apalagi yang melibatkan emosi besar seperti perselingkuhan, pikiran kita cenderung menjadi keruh, kabur dan buram.

Misalnya, saat kamu tahu pasanganmu selingkuh, mungkin kamu merasa dikhianati, marah, sakit hati, bahkan ingin langsung putus. Sulit rasanya untuk berpikir jernih atau mempertimbangkan alasan di balik kejadian itu. Emosi mengambil alih logika. Tapi menariknya, ketika masalah yang sama terjadi pada orang lain, katakanlah sahabat kita yang jadi korban perselingkuhan, kita justru berpikir lebih rasional. Mungkin kita akan bilang "coba dengerin penjelasannya dulu" atau "pikir dulu matang-matang" artinya kita masih bisa melihat lebih banyak sisi dari masalah itu dan tidak terburu-buru menilai.

Bukti Ilmiah: Kita Memang Beda dalam Menilai

Fenomena ini ternyata sudah pernah diteliti oleh Danica Kulibert dan Ashley E. Thompson dalam penelitian berjudul: "Stepping into Their Shoes: Reducing the Actor-Observer Discrepancy in Judgment of Infidelity Through the Experimental Manipulation of Perspective Taking" yang dipublikasikan dalam Journal of Social Psychology pada tahun 2019.

Dalam studi mereka yang melibatkan 708 peserta dewasa, para partisipan diminta membayangkan dua situasi berbeda. Pertama, mereka diminta membayangkan bahwa pasangan mereka sendiri berselingkuh. Kedua, mereka diminta membayangkan bahwa teman mereka yang diselingkuhi.

Setelah itu mereka ditanya, "Menurut kamu, ini termasuk selingkuh nggak sih?" dengan contoh perilaku seperti: kirim pesan genit ke orang lain, nonton video dewasa sendirian, atau ngajak mantan jalan-jalan secara sembunyi-sembunyi.

Hasilnya? Ketika membayangkan diri sendiri yang diselingkuhi, para peserta jadi jauh lebih emosional dan reaktif. Mereka cenderung langsung ingin mengakhiri hubungan, dan menganggap kejadian itu bentuk penghianatan, sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Sebaliknya, ketika membayangkan teman yang diselingkuhi, mereka bisa lebih tenang, lebih bisa berpikir panjang, lebih bijak dan tidak mudah menjustifikasi, bahkan mereka mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan terbuka untuk mencari pemahaman yang lebih luas.

Peneliti menyebut ini sebagai "bias aktor-pengamat" (actor-observer bias). Kita memang cenderung lebih bijak saat melihat masalah orang lain, dibanding saat terlibat langsung di dalamnya karena kita tidak ikut terbawa oleh beban muatan emosional sehingga otak kita bisa berfikir jernih memproses informasi dengan lebih objektif.

Atribusi teori: Saat Kita yang Melakukan vs Saat Orang Lain yang Melakukan

Studi lain yang mendukung temuan ini adalah "Understanding Variations in Judgment of Infidelity: An Application of Attribution Theory". Penelitian ini menerapkan teori atribusi yaitu teori yang menjelaskan bagaimana kita mencari penyebab dari perilaku seseorang.

Misalnya, kita mungkin berpikir "dia selingkuh karena memang dasarnya tidak setia" atau "mungkin karena hubungannya lagi bermasalah." Dari situ kita bisa menyimpulkan apakah perilaku itu merupakan kesalahan pribadi atau karena situasi tertentu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika pelakunya orang lain (misal: pasangan atau teman), kita cenderung lebih cepat menyalahkan dan menganggap itu murni karena niat buruk atau karakter buruk. Dan jika pelakunya diri sendiri, kita lebih maklum dan cenderung menyalahkan kondisi atau keadaan yang mendorong perbuatan tersebut. saat orang lain berbuat salah kita anggap itu karena sifat jelek mereka, saat kita yang berbuat salah kita anggap karena keadaan sulit. kita lebih lunak ke diri sendiri dan lebih keras ke orang lain padahal kondisinya mungkin lebih mirip. Kita lebih mudah melihat alasan dibalik Tindakan kita, tapi sulit melakukan hal yang sama saat menilai orang lain.

Kesenjangan Kebijaksanaan dan Solusinya

Fenomena ini disebut dengan "wisdom gap" atau kesenjangan kebijaksanaan. Kita punya kemampuan untuk berpikir bijak, tapi kemampuan itu sering kali tidak muncul saat kita terlibat secara emosional dalam masalah.

Lalu bagaimana solusinya? Para ahli menyarankan teknik "self-distancing" atau mengambil jarak dari diri sendiri. Caranya: Bicara pada diri sendiri dengan nama  : Alih-alih bertanya "Apa yang harus aku lakukan?" cobalah bertanya "Apa yang harus (sebutkan nama kamu) lakukan?" Gunakan sudut pandang orang ketiga : Bayangkan kamu melihat masalahmu dari sudut pandang teman dekat yang bijak. Tulis jurnal dalam sudut pandang observer : Tulis masalahmu seolah-olah itu terjadi pada orang lain.Tanyakan pada diri sendiri: "Apa nasihat yang akan aku berikan jika sahabatku mengalami hal yang sama?"

Contoh Praktis teknik self-distancing

Berikut contoh praktis penerapan teknik "self-distancing" dalam berbagai situasi, termasuk kasus perselingkuhan :

1. Bicara pada Diri Sendiri dengan Nama

Situasi: Junaidi baru saja mengetahui pasangannya berkirim pesan romantis dengan mantan kekasihnya.

Reaksi spontan: "Aku harus langsung konfrontasi dia! Aku tidak terima dikhianati seperti ini!"

Dengan self-distancing: "Apa yang sebaiknya Junaidi lakukan dalam situasi ini? Junaidi perlu mengumpulkan pikiran terlebih dahulu, menenangkan diri, dan berbicara dengan pasangannya dengan kepala dingin untuk memahami situasi sebenarnya."

Mengapa efektif: Menyebut nama sendiri menciptakan jarak psikologis yang memungkinkan otak Anda mengakses pemikiran yang lebih rasional dan strategis, bukan hanya respon emosional.

2. Gunakan Sudut Pandang Orang Ketiga

Situasi: si Junaidi melihat pasangannya bergandengan tangan dengan orang lain di sebuah café saat seharusnya dia sedang kerja lembur.

Reaksi spontan: "Ini pengkhianatan yang tidak bisa dimaafkan! Aku akan mendatangi mereka sekarang juga dan membuat keributan!"

Dengan self-distancing: "Junaidi baru saja melihat pasangannya dengan orang lain. Dia merasa sakit hati dan marah, yang sangat wajar. Namun membuat konfrontasi publik mungkin bukan langkah terbaik. Junaidi sebaiknya pulang, menenangkan diri, dan mempertimbangkan cara terbaik untuk membicarakan ini. Dia juga perlu mempertimbangkan bahwa mungkin ada penjelasan lain, meskipun tampaknya tidak mungkin."

Mengapa efektif: Perspektif orang ketiga memungkinkan Junaidi melihat tindakan yang mungkin lebih bijaksana dan menghindari reaksi impulsif yang mungkin Junaidi sesali kemudian.

3. Tulis Jurnal dalam Sudut Pandang Observer

Situasi: kasus M mirip Seperti kasus Junaidi yang mengetahui Alya selingkuh.

Contoh entri jurnal:

"Seorang pria bernama M baru saja mengetahui bahwa kekasihnya berselingkuh. Semua teman-temannya menyarankan untuk segera putus. M tentu merasa terluka dan dikhianati, wajar jika dia marah. Namun sebelum mengambil keputusan besar, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: Apa yang menyebabkan pasangannya mencari perhatian di tempat lain? Apakah ada masalah komunikasi dalam hubungan mereka? Apakah hubungan ini masih bisa diperbaiki jika keduanya berkomitmen? M perlu waktu untuk merefleksikan hubungan mereka secara keseluruhan, tidak hanya fokus pada peristiwa perselingkuhan."

Mengapa efektif: Menulis seperti ini membantu mengubah perspektif dari "ini terjadi padaku" menjadi "ini adalah situasi yang sedang terjadi" yang memungkinkan analisis yang lebih objektif.

4. Tanyakan pada Diri Sendiri

Situasi: M mendapati pasangannya berbohong tentang keberadaannya saat weekend.

Reaksi spontan: "Dia pasti selingkuh! Aku tidak bisa percaya lagi padanya!"

Pertanyaan self-distancing: "Jika eca sahabatku yang mengalami ini, apa nasihat yang akan kuberikan padanya?"

Jawaban potensial: "Aku akan menyarankan eca untuk mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan pasangannya, mengungkapkan kekhawatirannya dengan tenang, dan mendengarkan penjelasan tanpa langsung membuat kesimpulan. Mungkin ada alasan lain di balik kebohongan itu yang perlu didengar terlebih dahulu."

Mengapa efektif: Kita cenderung lebih bijaksana saat menasihati teman dibandingkan diri sendiri. Teknik ini memanfaatkan kebijaksanaan yang sudah kita miliki tetapi sering tidak digunakan untuk masalah pribadi.

Contoh Praktis dalam Kasus Junaidi

Jika Junaidi menerapkan self-distancing, prosesnya mungkin seperti ini:

Menenangkan diri terlebih dahulu di tempat yang sepi (mungkin di tepi pantai Tareba)

Menulis di buku hariannya: "Junaidi baru saja mengetahui bahwa Alya pasangannya, berselingkuh. Dia tentu merasa terpukul dan dikhianati. Sebagai seorang pengacara dan dosen, Junaidi terbiasa berpikir logis dan mencari bukti sebelum membuat kesimpulan. Apa yang sebaiknya dia lakukan dalam situasi ini?"

Bertanya pada dirinya: "Jika Azis (sahabatnya) yang mengalami ini, apa yang akan kusarankan kepadanya?"

Menyusun rencana tindakan yang lebih bijak: Berbicara dengan Alya untuk memahami situasinya, merefleksikan hubungan mereka, mempertimbangkan apakah masih ada cinta dan kepercayaan yang bisa dibangun kembali, dan baru kemudian membuat keputusan.

Dengan pendekatan ini, Junaidi akhirnya bisa merespons situasi dengan lebih bijaksana, bukan hanya dengan dorongan emosi sesaat. Apakah hasilnya nanti mereka tetap bersama atau berpisah, keputusan itu akan diambil dengan lebih tenang dan didasari pemikiran yang matang.

Kembali ke cerita Junaidi. Setelah beberapa minggu, kami kembali bertemu di Tareba. Wajahnya lebih tenang. Dia bercerita bahwa alih-alih langsung memutuskan hubungan, ia mencoba melihat masalahnya dari sudut pandang yang lebih luas. Ia dan Alya akhirnya bisa bicara dengan kepala dingin, mengidentifikasi masalah dalam hubungan mereka yang menjadi pemicu perselingkuhan itu. "Kalau aku langsung mengikuti emosi saat itu, mungkin ceritanya sudah berbeda," ucap Junaidi sambil tersenyum tipis. "Kadang kita perlu melangkah mundur untuk melihat gambar utuhnya." Mungkin kita semua perlu belajar menjadi pengamat bijak untuk masalah kita sendiri, sama seperti kita mampu menjadi penasihat bijak untuk sahabat kita.