Perlu diingat semua guru tanpa terkecuali mendorong dan mendukung
muridnya untuk giat belajar, namun ada beberapa guru memberikan dorongan dan
dukungan lebih dari biasanya, baik melalui lisan maupun pola mereka mengajar
dan saat penulis meminta pandangannya. Guru penulis di kelompok ini yaitu:
1. Kedua orang tua penulis yang sejak awal memang
menginginkan agar penulis mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu Islam, meski saat
itu penulis lebih tertarik dengan pelajaran umum bahkan sampai kelas I SMA
teristimewa biologi. Saat ayahanda wafat 1990, penulis pernah meminta ibunda
agar berhenti mondok dan melanjutkan ke SMP negeri, tapi ibunda tetap pada
pendirian, mungkin telah diwasiatkan oleh ayahanda agar penulis tetap mondok.
2. Ustz Muset binti Faray; guru tiga generasi yang
meletakkan fondasi awal bagi penulis untuk berani tampil di depan banyak orang,
termasuk kegiatan murid TK pergi ke RRI Ternate untuk bernyanyi yang disiarkan
melalui radio.
3. Ustz Basariah wali kelas V ibtidaiyah
al-Khairaat yang berulang kali dan tak bosan-bosannya menasihati penulis untuk
belajar ilmu agama dan menyuruh agar melanjutkan Pendidikan di Pesantren
al-Khairaat Palu. Sekitar 1997, ustz meminta penulis untuk memberi insight di
al-Khairaat Selatan di depan murid, wali murid dan pengurus.
4. Ustz Khadijah wali kelas III ibtidaiyah; guru
berkarakter, disiplin, menguatkan penulis untuk memainkan peran sebagai sahabat
Bilal bin Rabah (w. 20 H) dalam acara fragmen pendek maulid
Nabi suci saw di ibtidaiyah Al-Khairaat Selatan. Embrio yang memupuk keberanian
untuk tampil berbicara di depan banyak orang.
5. Ibu Cum wali kelas Va dan VIa menjadikan
penulis ketua kelas selama 2 tahun. Memperoleh pelajaran tentang koordinasi,
memimpin orang di kelas meski masih dalam bentuk yang sederhana.
6. Ust Saqqaf Aljufrie (w. 2021); ketua utama
al-Khairaat sampai 2021, meski sibuk sebagai anggota MPR utusan golongan dari
Sulteng saat itu, masih berkesempatan mengajar di kelas. Beliau
memberikan insight pada murid melalui syair-syair guru tua,
dan nyanyian/qasidah tentang kecintaan kepada republik Indonesia.
7. Ust Abdillah al-Jufrie pimpinan pesantren
al-Khairaat Palu, selain mengajar juga memberikan metode menghafal jika
mengalami kesulitan, di antaranya dengan mengeraskan suara. Beliau juga
memberikan motivasi tinggi. Menguatkan penulis saat ayahanda wafat, agar fokus
pada ilmu. Beliau berpesan yatim itu bukan tidak ada orang tua, tetapi tidak
ada ilmu dan adab sebagaimana bunyi salah satu syair.
8. Ustz Mutahhar Aljufrie, berdedikasi
tinggi, mutasawwif. Selain mengajar di kelas, penulis juga belajar
hadis; Riyadh al-Salihin dan ilmu nahwu di rumahnya, terutama
saat ayahanda penulis wafat. Ust Mutahhar mendorong penulis agar tetap tabah
dan terus melanjutkan belajar di pondok. Beliau juga menjadi perantara penulis
mengenal dan mengajar di pondok Habib Saqqaf Nurul Iman al-Ashriyyah Parung
Bogor 2005-2007.
9. Habib Abu Bakar Alatas, mendorong berulang kali
kepada ibunda agar penulis dipondokkan di Dar al-Nasyiin Lawang-Malang Ust
Muhammad Ba‘bud. Ramadhan tahun 1990, penulis tidak pulang ke Ternate tapi ke
Ujung Pandang (Makassar), kerap kali menghadiri tarawih bersama di rumah Habib
Abu Bakar, setelah itu terkadang diisi obrolan lepas tentang Islam. Selain
memperoleh dorongannya, juga contoh kedermawanan terhadap tamu, bahkan sampai
sekarang pengajiannya menyiapkan makanan bagi mereka yang hadir.
10. Pak
Taslim di Palu dan pak Tejo di Lawang Malang keduanya guru biologi yang paham
kalau penulis menyukai pelajaran ini, sehingga hampir setiap PR mapel ini,
salah satu soalnya penulis yang menyelesaikannya.
11. Ust
Muhammad Ba’bud (w. 1993), yang mendorong untuk selalu belajar, mencontohkan
kesederhanaan, mengasihi anak yatim dan berbagi dengan orang lain. Ust Muhammad
memiliki kebiasaan memberikan kelebihan rezekinya kepada anak yatim yang ada di
pondok, termasuk penulis. Mereka diprioritaskan terlebih dahulu dibanding anak
pondok lainnya yang masih memiliki orang tua. Di kesempatan lain anak pondok
lainnya tersebut juga memperoleh itu bersama-sama dengan anak yatim.
12. Ust
Ali Ba’bud (w. 2007) yang mendorong agar penulis memilih membaca buku apa saja
bagi mereka yang menekuni ilmu agama, baik pemula maupun lanjutan. Penulis
kerap kali bertanya pada beliau, salah satunya hadis tentang Nabi suci saw
menggabung dua shalat dalam satu waktu.
13. Ust
Solihin al-Jawi mendorong agar penulis fokus dengan pelajaran, mengimami
shalat, memimpin doa dan membatasi agar tidak terlalu membicarakan seputar isu
Sunni Syiah yang saat itu hangat di Jawa Timur
14. Ust
Ali Pengaron al-Maduri mendorong untuk menekuni nahwu dengan memberikan privat
kepada penulis di luar kelas
15. Ust
Hasan Baharun (w. 1999) mendorong agar penulis tetap menuntut ilmu dan
berakhlaq mulia, saat penulis pamit ini adalah pesan utamanya
16. Ust
Qaimuddin, guru yang menumbuhkan kesukaan penulis pada usul fiqh dan
logika berpikir. Penulis pernah menelpon beliau sekitar tahun 2014 atau 2015
mengucapkan terima kasih atas hal itu saat di pondok.
17. Ust
As’ad al-Maduri memberikan privat kepada penulis mempelajari usul fiqh
dan ulum hadis dari karya sayid al-Maliki; al-Manhal
al-Lathif.
18. Ust
Hasan Bashri al-Maduri, guru yang menambahkan kecintaan penulis pada sejarah (sirah)
Nabi suci saw. Paling terkesan saat beliau mengisahkan detailnya proses perang
Khaibar 7 H dan perang Mu’tah 8 H.
19. Ust
Abdullah Maula Khelah (w.?), salah satu murid sayyid al-Maliki. Menumbuhkan di
hati penulis mendalami ilmu hadis. Di satu kesempatan saat mengajar, beliau
bertanya: “jika hadis diriwayatkan oleh Imam Syafi’i (w. 204 H) dari Imam
Hanafi (w. 150 H) apakah hadis itu shahih atau tidak?”.
Kebetulan di kelas saat itu tidak ada yang menjawab kecuali penulis, dan
jawaban penulis benar bahwa hadis itu terputus karena kedua imam itu tidak
bertemu.
20. Ust
Syarif dari Madura; dosen IAIN Sunan Ampel saat itu (1995-1996), memberikan
dorongan untuk berpikir kritis terhadap sebuah penafsiran al-Qur’an. Insight berkesan
di makul tafsir maupun ulum al-Qur’an, dan kebetulan penulis diberi nilai
tinggi.
21. Ust
Ali Albaar (w. 2016); dosen dan paman (khal) penulis, mengajar di kampus
STAIN Ternate saat itu (1997-1999), dan bersedia mengajari penulis di luar
kampus untuk melanjutkan kajian ushul al-hadis dari
kitab al-Manhal al-Lathif. Mendorong penulis untuk selalu kembali
kepada sumber asli hadis.
22. O.
Hashem (w. 2009), penulis memanggilnya ami Umar. Dokter yang praktik di Bandar
Lampung, setelah pensiun berdomisili di Jati Bening Bekasi. Beliau memiliki
keunikan karena mendalami Islam khususnya kritik sejarah. Mendorong penulis
berpikir kritis terhadap apa pun terutama sejarah.
23. Prof
Aqil al-Munawwar, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mendorong penulis
untuk mendalami ilmu hadis, manhaj al-muhaddisin, al-jarh wa al-ta’dil dan
kritik hadis terkait dengan ushul fiqh
24. Dr.
Sahabuddin dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pembimbing Disertasi dan
mendorong penulis untuk memahami makna hadis terkait dengan fiqh al-hadis dari
berbagai perspektif mazhab
25. Dr.
Lutfi Fathullah (w. 2021) pembimbing Tesis penulis, mendorong penulis
memahami ulum al-hadis, kritik hadis dan teori dan praktik
ilmu ilal al-hadis
26. Prof
Badri Yatim (w. 2009) dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mendorong penulis
untuk memahami tahapan-tahapan dalam sejarah Islam klasik sampai sejarah Islam
modern.
27. Dr.
Fuad Jabali dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mendorong penulis untuk
mengkaji sumber-sumber sejarah outsider yang berbahasa
Inggris.
28. Prof
Quraish Shihab dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, memberikan pola
penafsiran, dan beberapa insight tentang tafsir yang sangat
berharga. Selain itu, penulis sering mengoleksi karyanya.
29. KH
Dr. Masyhuri Na’im dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pembimbing Tesis,
mendorong penulis mengkaji hadis dengan perspektif ulama hadis dan ushul
fiqh. Mahasiswa yang dibimbingnya kalau ke rumahnya diajak makan terlebih
dahulu. Penulis juga pernah menginap di rumahnya saat bimbingan.
30. Prof
Huzaemah Tahido Yanggo (murid dari Guru Tua), mendorong penulis agar
menyelesaikan studi secepatnya dan insightnya tentang perbedaan
ulama mazhab saat penulis menulis Disertasi.
31. Habib
Saqqaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar (w. 2010); pimpinan pondok pesantren Nurul
Iman al-Ashriyyah Parung Bogor, mendorong penulis untuk konsen dengan
ilmu dan karenanya penulis diminta mengajar di sekolah tinggi pondok tersebut
(2005-2007). Beliau juga pernah meminta agar penulis beserta keluarga pindah
dan tinggal di dalam pondoknya.
ilustrasi: png tree