Dalam studi
Islam, umumnya ulama teristimewa ulama hadis memiliki tradisi yang cukup unik
yaitu menuliskan nama-nama orang yang berjasa pada mereka dari aspek ilmu
pengetahuan. Reportase tersebut dengan menuliskan nama guru bagi pengkaji hadis
sebagai murid dilatar belakangi oleh dua hal: pertama, untuk
menghormati jasa guru; kedua, membuktikan sahnya transfer ilmu
sekaligus menampilkan geneologi ilmu yang murid miliki sebagai pengkaji hadis
berikut dominasi dan warna yang mempengaruhi ide, pola dan metode pemikirannya.
Tradisi
tersebut telah dimulai sejak masa awal Islam periode mutaqaddimin (abad
I-III H). Al-Marrudziyyu (w, 275 H) termasuk ulama yang menghasilkan karya
tentang guru-gurunya, walaupun sebelumnya telah ada namun tidak terlalu
sistematis. Dalam أخبار الشيوخ وأخلاقهم,
al-Marrudziyyu memuat semua gurunya secara langsung, akan tetapi ada juga
riwayat yang dia dengar dari orang lain yang kemungkinan dari teman atau
beberapa orang di masanya. Tradisi ini diteruskan oleh al-Nasa’i (w. 303 H)
dalam تسمية مشايخ. Kemudian muncul term
معجم الشيوخ dan seolah menjadi paten bagi ahli hadis
yang menulis guru-guru mereka seperti al-Shaidawi (w. 402 H), al-Dzahabi (w.
748 H), dan al-Subki (w. 771 H). Pola Mu’jam al-Austath dan al-Shagirnya
karya Thabarani (w. 360 H) sebenarnya berisi Mu‘jam al-Syuyukh.
Dalam Mu‘jam
al-Syuyukh, selain menulis nama guru biasanya ahli hadis juga memuat
riwayat hadis maupun sepenggal kisah guru tersebut. Berpijak dari tradisi mulia
tersebut, maka hari guru 25 Nopember 2024 penulis mencantumkan guru-guru/orang
yang pernah mengajari penulis baik formal maupun non formal. Mereka akan
penulis bagi menjadi 3 kelompok, yaitu: pertama, siapapun
yang pernah mengajari penulis. Tentu semua berdasarkan ingatan
penulis, maka tidak semua dapat penulis ingat namanya karena keterbatasan
sebagai manusia yang lemah. Meski demikian akan penulis sebutkan pernah belajar
di sekolah/pondok mana, agar bisa diketahui guru-guru yang ada sekolah itu saat
penulis bersekolah disitu; kedua, dari bagian pertama, ada
guru yang sifatnya memberikan dorongan; dan ketiga, dari
bagian pertama dan kedua, ada guru yang memberikan ide, pencerahan, pola,
metode berfikir dan mempengaruhi pemikiran penulis. Semua ini diniatkan untuk
mengenang dan menghargai jasa-jasa mereka, baik yang masih hidup maupun yang
sudah wafat.
A. Guru yang Mengajari Penulis
Saat kecil,
guru penulis adalah almarhumah (selanjutnya disingkat almh) Ibunda Alwiyah
binti Idrus Albaar (w. 1998 M) dengan almarhum (selanjutnya disingkat alm)
ayahanda bernama asli Syech bin Abu Bakar Assagaf (w. 1990 M), namun lebih
disebut dengan Sa‘id (سعيد) Assagaf. Ada pula
yang menyebut dengan ami Id Pertanian karena dinasnya di
Pertanian lalu di Perkebunan Ternate Maluku Utara. Ayahanda menjadi guru
mengaji al-Qur’an saat penulis kecil selain mengajari bahasa
Indonesia, IPA dan Matematika saat penulis di bangku SD. Guru-guru ngaji
lainnya: Ibu Ipa Albaar isteri dari Ami Id Albaar, paman penulis Salim Assagaf,
saudara angkat penulis ka Ipa Assagaf; anak dari Ibu CI (Syifa) Albaar adalah
ibu angkat penulis.
Duduk di
bangku TK Alkhairaat Ternate 1981-1982, guru-guru penulis
yaitu: Ustazah (selanjutnya disingkat Ustz) Muset binti Faray bin Abd Aziz (w.
2020 M), Ibu Fat tinggal di Kedaton Tidore, ustz Maryam Albaar. Di SD
Islamiyah 4 kota Ternate 1982-1988, guru-guru penulis: Ibu Fat (wali
kelas I, beda dengan Ibu Fat guru TK yang penulis tidak ingat nama lengkap
keduanya), Ibu Wia/Alwiyah (wali kelas II, namanya sama dengan nama ibunda
penulis), Ibu Yati (wali kelas III), Ibu As atau Asmiati? (wali Kelas IV)
penulis tidak terlalu hafal namanya. Namanya penulis peroleh dari salah satu
teman sekelas dan keluarga bernama Zubaida Assagaf. Ibu Cum; mungkin namanya
Kaltsum (wali kelas Va dan VIa) yang mengangkat penulis menjadi ketua kelas V
dan VI. Ibu Cum terakhir penulis ketemu sekitar Ramadhan 2009, saat penulis
selesai ceramah di masjid yang lokasinya dekat dengan rumahnya, ibu Cum di
kursi roda. Penulis lalu mencium tangan dan lututnya, beliau lalu menangis.
Guru-guru penulis lainnya di SD: ustad (selanjutnya ditulis ust.) Abd Rahman
orang Makian, alm. ust. Amin Dali Lapatiani (juga dosen penulis saat kuliah di
STAIN Ternate 1997-1999 M), Pak Talib, Pak Amir Hi Daud kepala Sekolah
Islamiyah IV, ibu Dawang, ibu Suhaida Assagaf dan guru-guru lainnya di sekolah
itu yang penulis tidak ingat lagi, termasuk guru olahraga pengganti pak Talib
di kelas VI. Kakak penulis Munjia Assagaf (sekarang Dr. Sp. M) pernah mengajari
penulis pembagian Matematika di rumah.
Selain di SD,
penulis juga bersekolah di madrasah Alchairaat kota Ternate Selatan, guru-guru
penulis disini: ustz. Ulfah Albaar (wali kelas I) bersama ustz Bongso, ustz.
Wardah Bachmid (wali kelas II), ustz. Khadijah asal Tidore (wali kelas III),
ustz. Najmiah Assagaf (wali kelas IV), ustz. Basariah (wali kelas V) asli orang
Sulawesi Tengah. Ustz. Basariah juga kepala sekolah di Alchairaat Selatan yang
kadang dibantu oleh suaminya ust Musa. Penulis hanya sampai kelas V di
ibtidaiyah ini. Ada satu hal yang menarik, ternyata wali kelas penulis dari TK,
SD dan Madrasah semuanya adalah Perempuan. Pengaruh guru Perempuan di
Pendidikan awal dan dasar tersebut sangat membantu dalam perkembangan ilmu dan
karakter murid.
Saat usia TK
sampai kelas II SD, penulis kerap kali diajak ayahanda menghadiri pengajian
Habib Abu Bakar Alatas (awalnya dipanggil dengan ustad Abu Bakar), salah satu
murid Sayyid al-Maliki (w. 2004 M). Tempat tinggalnya bersebelahan dengan
sekolah penulis yaitu SD Islamiyah IV. Kedua orang tua penulis akrab dengannya.
Tahun 1988-1991
penulis mondok di Pesantren Alcahiraat Pusat di Palu Sulawesi Tengah dan di SMP
Alchairaat, guru-gurunya: Pimpinan pondok alm. ust. Abdillah al-Jufrie bersama
ketua utama alm. ust. Saqqaf al-Jufrie, MA (w. 2021), ust. Mutahhar al-Jufrie bersama
isterinya ustz. Aminah al-Jufrie, ust. Hariyanto, ust. Dhamir, ust. Faisal
Mahmud, ust. Muchlis, ust. Faqih, ust. Feneti Ruma asli Papua, ust. Alwi
al-Jufrie (sekarang ketua Utama al-Khairaat), alm. ust. Shalih al-Jufrie, ust.
Muh Rumi, ust. Abd Rahman bin Smith, ust. Husein Habibu, pak Taslim, pak Rendi,
pak Abdullah Latupada. Begitu juga pak Muhammadin seorang ‘mualaf’ namun
belakangan ternyata misionaris dengan nama asli Antonius, dia kemudian
dikeluarkan dari pondok Al-Khairaat Palu sekitar September-Nopember 1988. Serta
guru lainnya terutama yang tidak tinggal di pondok yang mengajar mapel umum,
tidak penulis ingat satu persatu namanya. Selain itu, santri senior
sebagai musa’id (مساعد)
juga mengajari penulis seperti: ust. Ridha Assagaf (juga kolega penulis
di STAIN Ternate), dan kakaknya ust. Abd Rahman Assagaf (juga dosen pembantu di
STAIN Ternate 1997-1999), ust. Luqman, ust. Maksum Rumi. Sebagian mereka
sekarang sudah bertitel doktor dan mungkin profesor.
Tahun
1991-1994, penulis mondok di Pesantren Dar al-Nasyiin Lawang Malang Jawa Timur,
guru-gurunya: Pimpinan Pondok al-‘alim allamah Ust. Muhammad Ba‘bud, ust. Ali
Ba‘bud, ust. Solihin al-Jawi, ust. Nasih al-Banjari, ust. Ali Shahab. Teman
seangkatan dan murid senior bernama ust. Ali Pengaron al-Maduri juga mengajari
penulis. Pondok ini tidak besar dan memuat tidak banyak murid. Di antara
alumninya yaitu Alwi Shihab mantan Menlu era Gus Dur (w. 2009 M). Prof Quraish
Shihab juga pernah mondok disini meski hanya sekitar 3 bulan (sebelum pindah ke
Dar al-Hadis al-Fiqhiyyah di kota Malang) sesuai pengakuannya saat penulis
bertemu pada Desember 2013 di sela-sela kegiatan TOT moderasi Islam di kota
Ternate yang disponsori oleh salah satu bank pemerintah dan diselenggrakan
bersama Al-Khairaat. Pondok Lawang memiliki ‘kerja sama’ dengan SMA Ma‘arif
Lawang Malang Jawa Timur, maka tidak sedikit anak pondok yang masuk ke SMA
tersebut termasuk penulis, untuk memperoleh ijazah negeri selain ijazah pondok
(saat itu ijazah pondok belum disetarakan seperti sekarang). Guru penulis di
SMA ini yaitu: guru biologi namanya pak Tejo (mungkin Sutejo), dan guru sejarah
Bu Eni namanya, serta guru lainnya saat itu yang penulis tidak ingat lagi,
sebab hanya di kelas I SMA (1991-1992). Saat naik kelas II penulis berhenti dan
fokus belajar di pondok saja sembari kemudian mengikuti ujian persamaan di
Aliyah Al-Khairaat pada tahun 1994.
Tahun
1994-1995, penulis belum kuliah namun mondok lagi di Pesantren Dar al-Luqhah wa
al-Dakwah Bangil Pasuruan Jawa Timur, guru-gurunya: alm. ust. Hasan Baharun,
ust. Qaimuddin, alm. ust. Qasim Baharun, ust. Saqqaf Baharun, ust. Miqdad
Baharun yang saat itu baru saja pulang dari Sayyid al-Maliki, Habib Husein
al-Muhdhar, ust. As‘ad al-Maduri, ust. Hasan Bashri al-Maduri, ust. Abdullah
Maula Khelah, ust. Abd Baits, ust. Ali al-Jufrie, ust. Hamzah, ust. Syakir,
ust. Saifuddin, ust. Muhammad al-Haddad, ust. Sulthan? ust. Badar? dan guru
lainnya saat itu yang mengajari penulis. Kakak kelas bernama ust. Abd Aziz dari
Lampung juga mengajari penulis di luar kelas.
Sekitar akhir
Juli 1995 penulis lulus di IAIN Sunan Ampel Malang jurusan Pendidikan Bahasa
Arab sebagai pilihan pertama, namun atas permintaan penulis saat itu agar bisa
pindah ke IAIN Sunan Ampel pusat di Surabaya pada jurusan Tafsir Hadis. Yang
menerima surat dari dekan Malang di Surabaya adalah wakil Dekan I Ushuluddin
pak Murtafik Sufri dengan dekannya Pak Artani Hasbi saat itu belum guru besar.
Guru-guru penulis di kampus ini (1995-1996) yaitu: ust. Syarif dari Madura, pak
Muslih Fuadi, ibu Nur Fadlilah, pak Muhid, ust. Hasan Basri Banjar, ust.
Akhyar, pak Tasmuji, pak Fajrul Hakam, Pak Loekisno, pak Arifin (Zainal?) yang
mengajar Ilmu Alamiah Dasar, alm. pak Ahmad Hudaya lalu menjadi dosen di IAIN
Surakarta dan menjadi kolega penulis saat bertugas di Solo. Serta guru lainnya
di IAIN Sunan Ampel yang tidak penulis ingat satu persatu namanya, termasuk
yang mengajari P4 saat itu untuk mahasiswa baru dan Ospek. Senior yang sering
penulis datangi kosannya berdiskusi saat itu adalah Shalih al-Muhdar dari Sitobondo
mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat.
Ibunda penulis
mengalami sakit, maka awal tahun 1997 penulis resmi menjadi mahasiswa di kampus
IAIN Alauddin cabang Ternate jurusan Pendidikan Bahasa Arab dengan konversi
nilai, Guru-guru penulis di kampus ini (1997-1999) yaitu: ust. Yahya Abd Rahman
Misbah, MA, ust. Ali Albaar; juga guru penulis di luar Kampus, pak Abdjan, ibu
Junaenah Misbah, pak Muh Wardah juga senior penulis di Ciputat, ust. Taha Abd
Wahab, ust. Abdullah Lapangandong, pak Hanafi Rajab, Pak M. Djidin, M.Ag, alm.
ust. Asnawi, almh. ustz. Ruqayah Albaar, ustz. Fahima Abd Gani, ibu Nur Hasnah
Abbas, ibu Suryani, pak Hamid Laonso, pak Yamin Hadad mengajar tarjamah dan
terkadang meminta penulis membantunya menerjemahkan untuk teman-teman sekelas,
pak Abd Rahman Marassabesy, M. Ag, pak Zein, pak Usman Ilyas, pak Zainuddin
Arifin, pak Anshor Tohe, pak Mu’in? (dosen bahasa Inggris yang pindah ke
Makassar), pak Bahar Hamdi, pak Muslim (guru Aliyah yang mengajar di kampus),
pak Abdullah guru Alchairaat asal Kao sebagai dosen DLB, pak Muhdi al-Hadar,
M.Ag, juga sebagai pembimbing Skripsi bersama Drs. Abdullah DP; dekan saat itu
lalu menjadi ketua STAIN Ternate yang pertama sekitar Juli 1997. Sekarang
sebagian besar mereka sudah doktor dan ada yang sudah menjadi guru besar. Dosen
yang sering berbincang-bincang dan berdiskusi, meski tidak mengajar langsung di
kelas penulis yaitu Dr. Moh. Isom Yusqi (sebelum menjadi guru besar) dan Pak
Darsis Humah. Tahun 1997 penulis bertemu dengan dokter O. Hashem;
sepupu/keluarga ayahanda untuk pertama kali saat ami Umar ke Ternate, lalu
berlanjut di Bekasi Jati Bening saat penulis menempuh pascasarjana.
Tahun 2000-2002
kuliah S2, dan tahun 2003-2008 kuliah S3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
kemudian menjadi UIN pertama di Indonesia (mulai kuliah Pebruari/Maret 2004
karena berdekatan dengan pengumuman lulus CPNS yang mengharuskan penulis ikuti
Cados pasca CPNS Juli-akhir Oktober atau awal Nopember 2003). Guru-guru penulis
di kampus ini: Prof. Aqil al-Munawwar, Dr. Sahabuddin, alm. Dr. Lutfi Fathullah
(w. 2021 M), Prof. Quraish Shihab, Prof. Badri Yatim (w. 2009 M), Dr. Fuad
Jabali, Prof Yunan Yusuf Nasution, KH Dr Masyhuri Naim (w. 2014 M), Dr. Faizah
Ali Sibromalisi, Prof Ahmad Thib Raya, Prof. Salman Harun, Dr. Ahzami Sami’un
Jazuli, Prof. Nasaruddin Umar, Prof Bachtiar Effendi (w. 2019), Prof Azyumardi
Azra (w. 2022), Prof. Rif‘at Syauqi, Prof. Aminuddin, Prof. Emo? bersama Dr.
Aceng; keduanya dosen filsafat ilmu, Dr. Muslih. Di luar kelas penulis
berbincang, diskusi dengan Prof Huzaemah Tahido Yanggo (w. 2021) sebagai orang
tua/dosen, pengurus MUI Pusat di Komisi Fatwa serta sebagai senior alumni Al-Khairaat.
Penulis
menyempatkan menghadiri beberapa kali ujian terbuka dengan penguji Dr. Satria
Efendi (w. 2000) yang cukup menginspirasi. Mengikuti kuliah umum Prof
Nurcholish Madjid di UIN Ciputat maupun di tempat lainnya. Pembimbing tesis
penulis adalah Dr. KH Masyhuri Na‘im dan Dr. Lutfi Fathullah dengan penguji
Prof. Hasanuddin AF. Pembimbing Disertasi penulis adalah Prof. Mulyadhi
Kartanegara dan Dr. Sahabuddin dengan penguji proposal terdiri dari: Prof. Amir
Syarifuddin saat aktif MUI di Jakarta, Prof Kausar Azhari Noor dan Dr. Muchlis
Hanafi. Penguji ujian disertasi selain promotor yaitu: Prof Amani Lubis, Prof
Yunan Yusuf, Prof Suwito, Dr. Lutfi, dan Prof Azyumardi Azra. Selama di Ciputat
dalam rentang Pebruari/Maret 2005 sampai Nopember 2007, penulis mengajar di
Pondok Pesantren Nurul Iman al-Ashriyah Parung Bogor pimpinan Habib Saqgaf bin
Mahdi, disini juga penulis memperoleh ilmu melalui obrolan dan diskusi
dengannya.
Pada Juli-akhir Oktober 2003, penulis mengikuti pembibitan CADOS (calon dosen) pasca CPNS dan ini untuk pertama kali, sebab sebelumnya CADOS diselenggarakan oleh Kemenag sebelum CPNS. Guru-guru/dosen yang mengajar dan mengisi materi di kegiatan tersebut yaitu: Pak Muh Khatib, pak Tsamir; keduanya native speaker dari Suriah dan Irak, pak Tulus, pak Zamzami, Prof Machasin, pak Rinduan Zain, Prof Dudung, Dr. Ir. Luthfi Hasan, Prof Ichlasul Amal, dan kelompok CTSD Bu Sekar, pak Barmawi, pak Hisyam Zaini (kebanyakan mereka sekarang sudah guru besar) serta lainnya yang tidak penulis ingat satu persatu. Rata-rata tenaga pengajar/dosennya berasal dari IAIN Sunan Kalijaga sebab kegiatan tersebut diselenggarakan di kota Yogyakarta. Di masa ini angkatan CPNS tersebut juga mengikuti prajabatan di Yogya yang diisi oleh beberapa narasumber termasuk Prof Sangkot Sirat.